Hingga tiba malam ini, Gema membicarakan semuanya. Semua yang
selama ini, aku mencari tahu.
” Indri, kenapa kamu kelihatan gak suka sama Disa? ”
Aku tidak menjawab pertanyaan bodoh itu.
Gema menghela nafas, hembusannya terdengar begitu lembut,
aku menyukainya.
” Dengar baik-baik yah. Aku gak pernah sayang sama dia,
lagian aku dengan Disa sama-sama gak cinta...” Sebelum Gema melanjutkan
celotehannya, aku sudah siap untuk memotong penjelasannya.
” Bagaimana mungkin kamu gak sayang. Sedangkan pas kalian
putus kamu berubah jadi pendiam dan melamun selama dua hari” Aku sangat puas
mengungkapkan itu.
“ Harus bagaimana lagi membuat seorang Indriana Lestari
mengerti dan percaya kepadaku.. Kamu selalu seperti itu, lebih mempercayai
oranglain ketimbang aku” Gema menyerah, dan aku merasa bersalah tapi aku masih
diam tidak merespon.
“ Indri sayang.. apa kamu masih lebih mempercayai
oranglain?”
“ Kadang aku merasa kamu tidak benar-benar mencintaiku... “
“ Kamu meragukan ku? Baiklah.. Lebih baik tidak sama sekali
dibandingkan diragukan. Karena rasanya begitu sangat menyakitkan”
Angin malam membuat pelukanku semakin erat, laju kendaraan
Gema begitu lambat hingga Gema bisa menceritakan tiga perempuan sekaligus. Dan semuanya
akan aku rangkum dalam tulisan ini.
h
“ Kenapa kamu selalu berpikir aku lebih memperlakukan mereka
sangat spesial dibandingkan kamu? Padahal sebaliknya, kamu adalah segalanya
untukku dibandingkan mereka”
Aku diam, menundukan wajah. Lelehan hangat seketika meluncur
begitu saja.
Ah maafkan aku Gema.
“ Maafkan aku sayang, maaf bila kamu merasa aku tidak
memperhatikan kamu. Sebenarnya ini tidak adil, tapi apa boleh buat. Aku hanya
takut, aku berlebihan mencintaimu.. Kamu pasti mengerti, semua orang punya
masalalu yang buruk dan menyakitkan yang pasti akan merubah apapun dimasa depan
termasuk aku kepadamu indriana”
Sudah kuduga. Ini pasti
tentang mereka.. memang Gema, ini tidak adil. Ini sama saja dengan
menyamaratakan aku dengan mereka, aku tidak akan menyakitimu. Aku tidak begitu,
bukankah kamu sendiri yang pernah bilang jangan pernah menyamaratakan orang
satu dengan yang lainnya, aku kurang setuju Gema, karena dari sana kita bisa
lebih hati-hati, dan bisa belajar dari yang pernah kita lalui, akhirnya kamu mengerti.
“ Indri... Begitu banyak hal yang membuat aku seperti ini. Memang
dulu aku pernah selalu mati-matian mencintai seseorang. Tapi luka, yang
memaksaku untuk tidak pernah lagi seperti dulu”
“ Jadi apa yang membuatmu menjadi sebegini tidak adil?” Ku
sembunyikan sakit dalam kata.
Kata demi kata membuatku terbawa, pada masa itu...
Gema
Putih dan abu-abu, 2013.
Remaja. Beginilah aku, muda,
bebas, dan bahagia. Usiaku 17 tahun, kelas dua SMA. Masa pencarian jati diri. Makannya,
aku tidak ingin menghabiskan masa SMAku dengan berbagai hal yang serius, hanya
satu dalam pikiranku “Kebebasan menikmati
hidup”, hingga saat ini aku sadar semuanya hanya “ kebahagiaan dan kebebasan yang bodoh. Sia-sia”. Pelajaran,
organisasi, ekstrakulikuler aku tidak pernah serius. Hingga aku mengenal seorang
anak perempuan dan untuk pertama kalinya aku merasa ingin serius.
Ini hari senin, upacara bendera
pasti akan dilaksanakan tepat sebelum jam pelajaran dimulai. Hari ini aku tidak
telat ke sekolah, yaaa.. sekitar lima menit berbaris dilapangan aku sudah
sampai di gerbang sekolah. Aku tidak berlari panik, dengan santai menuju
lapangan upacara. Tapi, telat ataupun tidak telat aku mempunyai firasat buruk.
Seluruh siswa, guru dan staf
lainnya sudah berbaris. Petugas upacara juga sudah siap. Akan tetapi sebelum upacara
bendera dimulai, Guru BP mengambil alih ke mimbar pembina upacara dan seperti
biasanya.
“ Selamat Pagi. Sebelum upacara
bendera dilanjutkan, silahkan kepada siswa dan siswi yang merasa atribut
sekolah tidak lengkap, silahkan berbaris di sebelah barat lapangan, tepat
disamping siswa dan siswi yang terlambat”
Sial. Aku tidak memakai dasi, dan
tetap saja aku harus kembali berbaris dihabitatku. Ya, tempat orang-orang tidak
waras hahaha.
Hampir setiap hari senin aku
berbaris di sebelah barat lapangan upacara, habis bagaimana aku tidak pernah
menghargai peraturan waktu itu, aku benci dengan kata taat aturan. Dan guru
yang paling favorit untuk menemuiku adalah Pak Agus, guru BP.
Setelah selesai upacara, aku
harus membersihkan toilet siswa yang joroknya minta ampun. Tapi tenang saja,
aku hanya perlu diam dan menyuruh-nyuruh adik kelas yang lugu dan baik hati. Bego
ya, disuruh kok mau.
“ eh, lu”
Seseorang menoleh, dan
mengisyaratkan ”Aku?”
.
.
To be continued.