Kamis, 15 Februari 2018

Hujan Mencintai Senja (2)

Hingga tiba malam ini, Gema membicarakan semuanya. Semua yang selama ini, aku mencari tahu.
” Indri, kenapa kamu kelihatan gak suka sama Disa? ”
Aku tidak menjawab pertanyaan bodoh itu.
Gema menghela nafas, hembusannya terdengar begitu lembut, aku menyukainya.
” Dengar baik-baik yah. Aku gak pernah sayang sama dia, lagian aku dengan Disa sama-sama gak cinta...” Sebelum Gema melanjutkan celotehannya, aku sudah siap untuk memotong penjelasannya.
” Bagaimana mungkin kamu gak sayang. Sedangkan pas kalian putus kamu berubah jadi pendiam dan melamun selama dua hari” Aku sangat puas mengungkapkan itu.
“ Harus bagaimana lagi membuat seorang Indriana Lestari mengerti dan percaya kepadaku.. Kamu selalu seperti itu, lebih mempercayai oranglain ketimbang aku” Gema menyerah, dan aku merasa bersalah tapi aku masih diam tidak merespon.
“ Indri sayang.. apa kamu masih lebih mempercayai oranglain?”
“ Kadang aku merasa kamu tidak benar-benar mencintaiku... “
“ Kamu meragukan ku? Baiklah.. Lebih baik tidak sama sekali dibandingkan diragukan. Karena rasanya begitu sangat menyakitkan”
Angin malam membuat pelukanku semakin erat, laju kendaraan Gema begitu lambat hingga Gema bisa menceritakan tiga perempuan sekaligus. Dan semuanya akan aku rangkum dalam tulisan ini.
h
“ Kenapa kamu selalu berpikir aku lebih memperlakukan mereka sangat spesial dibandingkan kamu? Padahal sebaliknya, kamu adalah segalanya untukku dibandingkan mereka”
Aku diam, menundukan wajah. Lelehan hangat seketika meluncur begitu saja.
Ah maafkan aku Gema.
“ Maafkan aku sayang, maaf bila kamu merasa aku tidak memperhatikan kamu. Sebenarnya ini tidak adil, tapi apa boleh buat. Aku hanya takut, aku berlebihan mencintaimu.. Kamu pasti mengerti, semua orang punya masalalu yang buruk dan menyakitkan yang pasti akan merubah apapun dimasa depan termasuk aku kepadamu indriana”
Sudah kuduga. Ini pasti tentang mereka.. memang Gema, ini tidak adil. Ini sama saja dengan menyamaratakan aku dengan mereka, aku tidak akan menyakitimu. Aku tidak begitu, bukankah kamu sendiri yang pernah bilang jangan pernah menyamaratakan orang satu dengan yang lainnya, aku kurang setuju Gema, karena dari sana kita bisa lebih hati-hati, dan bisa belajar dari yang pernah kita lalui, akhirnya kamu mengerti.
“ Indri... Begitu banyak hal yang membuat aku seperti ini. Memang dulu aku pernah selalu mati-matian mencintai seseorang. Tapi luka, yang memaksaku untuk tidak pernah lagi seperti dulu”
“ Jadi apa yang membuatmu menjadi sebegini tidak adil?” Ku sembunyikan sakit dalam kata.
Kata demi kata membuatku terbawa, pada masa itu...

Gema
Putih dan abu-abu, 2013.
Remaja. Beginilah aku, muda, bebas, dan bahagia. Usiaku 17 tahun, kelas dua SMA. Masa pencarian jati diri. Makannya, aku tidak ingin menghabiskan masa SMAku dengan berbagai hal yang serius, hanya satu dalam pikiranku “Kebebasan menikmati hidup”, hingga saat ini aku sadar semuanya hanya “ kebahagiaan dan kebebasan yang bodoh. Sia-sia”. Pelajaran, organisasi, ekstrakulikuler aku tidak pernah serius. Hingga aku mengenal seorang anak perempuan dan untuk pertama kalinya aku merasa ingin serius.
Ini hari senin, upacara bendera pasti akan dilaksanakan tepat sebelum jam pelajaran dimulai. Hari ini aku tidak telat ke sekolah, yaaa.. sekitar lima menit berbaris dilapangan aku sudah sampai di gerbang sekolah. Aku tidak berlari panik, dengan santai menuju lapangan upacara. Tapi, telat ataupun tidak telat aku mempunyai firasat buruk.
Seluruh siswa, guru dan staf lainnya sudah berbaris. Petugas upacara juga sudah siap. Akan tetapi sebelum upacara bendera dimulai, Guru BP mengambil alih ke mimbar pembina upacara dan seperti biasanya.
“ Selamat Pagi. Sebelum upacara bendera dilanjutkan, silahkan kepada siswa dan siswi yang merasa atribut sekolah tidak lengkap, silahkan berbaris di sebelah barat lapangan, tepat disamping siswa dan siswi yang terlambat”
Sial. Aku tidak memakai dasi, dan tetap saja aku harus kembali berbaris dihabitatku. Ya, tempat orang-orang tidak waras hahaha.
Hampir setiap hari senin aku berbaris di sebelah barat lapangan upacara, habis bagaimana aku tidak pernah menghargai peraturan waktu itu, aku benci dengan kata taat aturan. Dan guru yang paling favorit untuk menemuiku adalah Pak Agus, guru BP.
Setelah selesai upacara, aku harus membersihkan toilet siswa yang joroknya minta ampun. Tapi tenang saja, aku hanya perlu diam dan menyuruh-nyuruh adik kelas yang lugu dan baik hati. Bego ya, disuruh kok mau.
“ eh, lu”
Seseorang menoleh, dan mengisyaratkan ”Aku?”
.
.
To be continued.

Rabu, 31 Januari 2018

Hujan mencintai senja

"Kenapa kamu yakin?"
"Because I belive"
"I belive i can fly... Hahaha. I love you" Tangan ku semakin erat melingkari badannya.
"Tuh kan! Kamu gak jawab lagi" Kataku merajuk.
"Bukan gak jawab, tapi kamu gak denger". Dia sempatkan tangannya mencubit pipiku.
Suara lalulalang kendaraan membuat percakapan kami berdua didominasi dengan kata "Hah?", "Apa?", "Ih gak kedengeran", "Dasar budeg". Entah, semuanya dia ceritakan begitu saja. Tentang beberapa hal yang tadinya ingin aku tahu, tapi menjadi enggan ku dengar. Tapi dia memaksa, yasudahlah kudengarkan saja.
Kami berdua adalah kebetulan. Yap, kebetulan yang menjadi takdir. Sebenarnya aku tidak percaya dengan kata kebetulan, karena semua punya alur dan tujuan yang sudah Tuhan rencanakan. Bagaimana pertemuan kami, perkenalan kami semuanya sudah diatur Tuhan. Dan aku rasa, ini yang terbaik. Sering sekali kami berdebat tentang bagaimana seharusnya dia diperlakukan dan sebaliknya bagaimana juga dia harus memperlakukanku. Pernah sekali, aku meminta uuntuk pergi ke acara temanku.
"Enggak. Aku gak mau"
"Yaudah gapapa, aku tetep berangkat"
"Yaudah hati-hati"
Ketidakpekaan lelaki itu memang menjadi masalah yang berpengaruh dalam sebuah hubungan.
"Iya aku tahu, aku bukan mantan kamu. Yang kemana-mana kamu anter, yang selalu kamu turutin" Dan ini perempuan. Selalu menyangkutpautkan masalalu dengan masa sekarang.
"Terus aja banding-bandingkan sama mantan"
"Semuanya jelas kok. Kamu beda banget, kalo ke mereka treat like a queen. Aku? Hahah. Yaudah"
"Yaudah, sekarang kamu siap-siap. Aku jemput sekarang"  Ternyata laki-laki memang harus kalah.
"Gak perlu. Terlanjur unmood". Itu kebiasaanku.
" Kamu itu kenapa sih? Kenapa gak pernah sedikitnya ngerti. Atau paling tidak belajar dewasa, kamu selalu berpikiran aku memperlakukan mantan-mantanku lebih spesial, dibanding memperlakukan kamu! Kamu sok tahu"
" Bukan sok tahu, tapi memang itu kenyataannya"
" Aku punya alasan sendiri, kenapa aku begini. Intinya Aku sayang kamu"
Selalu menggantung, bagaimana mungkin aku bisa paham sedangkan dia tidak pernah menceritakan alasan yang dia maksud. Sampai upin-ipin lulus SMApun, sepertinya aku tidak akan pernah tahu dan tidak akan pernah mengerti. Kejadian serupa terus berulang-ulang. Dan dia pasti mengatakan "Kapan kamu mengerti?" ,dan aku hanya bisa bergumam " Saat kamu terbuka dan mengatakan sebenarnya pernah terjadi apa, disaat itu aku bisa mengerti".
Hingga tiba malam ini, akhirnya dia bisa....

Bersambung.

Hujan Mencintai Senja (2)

Hingga tiba malam ini, Gema membicarakan semuanya. Semua yang selama ini, aku mencari tahu. ” Indri, kenapa kamu kelihatan gak suka sama ...