Senin, 13 November 2017

Isi Rasa

bincang tentang yang lalu seolah tak berkesudahan. mengenai haru biru, bahagia dan segala rasa.
"tidak perlu tahu"
"aku ingin belajar"
"pasti menyakitkan"
"aku ingin seperti......."
"bagaimana menjadi yang paling ditakutkan untuk pergi atau hilang"
"bagaimana diperlakukan "aku satu"
"tidak! hidup ini satu alur dan itu maju, tidak harus menyusun puing yang tinggal debu"
🍁🍁🍁
aku harus bisa memahami. tapi bukankah aku juga butuh untuk dipahami. bukan begitu?
menyalahkan yang sudah? itu tak berguna.
bagian terpenting adalah bagaimana agar tidak bersikap kekanak-kanakan. tapi... siapa yang mau memahami? selain diri sendiri.
menyadarkan betapa cinta bisa menbuat seseorang berubah.
embun dan pagi.

Kamis, 24 Agustus 2017

Senja Enggan Bertepi (2)

Lintang berjanji akan menemuiku dipadang rumput tempat favoritku, aku menantikannya selama beberapa bulan. Dan tibalah waktunya, aku menunggu Lintang di sebuah ayunan yang disangga sebuah pohon  tua.
“Senja” Seseorang memanggilku tepat dari belakang, aku langsung berdiri dan membalikkan badan.
“Lintang!!! “ kataku sedikit berteriak
Kami berpelukkan, dan sempat melelehkan air mata.
“Senja, aku tak punya banyak waktu. Seseorang menungguku ditepi jalan”
“Siapa? “
Wajahnya langsung merona
“Seseorang yang ingin aku ceritakan”
“Oh yaaa?”
“Sudah lama ingin aku ceritakan padamu senja”
“Lintang, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan semenjak empat bulan lalu aku menelfonmu” Lintang membaca rautku yang berubah mendung.
“Senja.. Aku menemuimu bukan untuk melihatmu bersedih”
Aku diam
“Senja, dengar aku juga punya sesuatu yang ingin aku katakan padamu. Aku menunggu satu tahun untuk bercerita padamu”
“Baiklah, apa itu kabar gembira? “ Ku sambut kabar yang ingin ia ceritakan.
‘Ini tentang seseorang yang sedang menungguku dimobil, ditepi jalan sana” tampak sekali ia begitu bahagia.
“Lagi pula, kenapa tidak kamu ajak bertemu denganku”
“Ah itu tidak penting, mungkin dia pasti sedikit gugup hahah”
“Siapa dia? “
“Dia tunanganku”
“Yang aku tanya namanya, Lintang. Lama-lama aku kesal nih hahaha”
“Aku mau kamu yang menebaknya”
“Memangnya aku mengenalnya?”
“Yap, pasti...”
“Hahaha pasti teman SMA kan? “
“Ya, ayo coba terka”
“Aku pasti benar dalam sekali jawab”
“Hahah ayo cepat tebak”
“Putra? “
“Ah kamu, bukan”
“Hahah aku menyerah Lintang, cepat katakan”
Wajah Lintang makin memerah, menahan malu dan tawa.
“Arga”
Deg. Nafasku tertahan.Nadiku berhenti berdenyut.
“Setelah dua tahun yang lalu kalian putus, Arga sering mengajakku bertemu dikotaku, bahkan dia sering mengunjungi orangtuaku”
Apa? Putus? Aku berusaha sewajar mungkin dan baiklah, aku bisa tersenyum. Aku bisa menahan, ayolah airmata takperlu menunjukkan dirimu. Anggap saja memang sudah putus.
“Apa kamu baik-baik saja Senja? “
“ Iya, aku bahagia mendengarnya”
“ Sudah ku duga kamu tidak akan marah, karena tunanganku adalah mantan pacar mu hahaha”
“ Aku kecewa” refleks terbisik olehku
“ Kenapa? “
“ Yaa, aku sedikit kecewa kenapa Arga tidak bercerita hahaha”
Kusembunyikan luka dalam tawaku, ku tahan tangisku. Ini sakit, terasa begitu sakit. Sempurna sekali pura-puraku hariini. Hingga Lintang tak berfikir bahwa aku tengah terluka. Pantas saja Arga enggan menemuiku, ada salah yang ia sembunyikan .
Lintang, aku bahagia
Melepas rindu bersamamu
Tahukah kau Lintang
Ini sakit
Tapi bukan salahmu,
Biarlah, aku tak ingin merusak bahagiamu.
Tapi kenyataannya Arga masih milikku.
Ah tidak, itu hanya rasaku saja.
Jika Arga milikku, dia tak mungkin meminangmu.
Sedangkan untukmu Arga,
Selamat telah melukaiku.

Aku masih belum percaya, susah lupa. Tapi jika harus diingat, begitu mengenaskan. Percayaku hilang, bukan hanya pada Arga. Pada semua hati yang mendekat. Lukaku belum sirna. Percayaku belum utuh. Hatiku masih beku. Entah luka ini akan bertepi atau takkan hilang. Ini terlalu sakit.
Satutahun setelah pertemuan dengan Lintang, aku hilang kabar dengannya. Kujalani waktuku senormal mungkin, ku habiskan masaku di perpustakaan. Aku terlalu senang membaca hingga hari-hariku ku habiskan bersama buku.
“Teh eh Kak, permisi ini ada titipan dari Aa yang duduk disebelah sana” Aku sedikit memicingkan mata untuk melihat benda yang anak  ini berikan.
“Ah iya, ini punya saya. Nama kamu siapa? “
“Sinar kak”
“Oh iya makasih ya Sinar”
Sinar kembali berlari ke arah teman-temannya. Dan searah dengannya ada sosok yang tadi Sinar tunjukkan dan dia bilang, orang itu yang menyuruhnya mengembalikkan benda ini padaku. Seseorang yang ditunjukkan Sinar malah tak acuh dan sibuk dengan laptopnya.
“Pantas saja, ku cari-cari tidak ada. Untung dikembalikan ,ini kan isinya tentang Arga semua”
Ku balikkan wajahku ke arah laki-laki yang menemukan diaryku, tapi tidak ada siapapun ditempat duduknya. Cepat sekali dia pergi.
..
..
Mentari kembali menyapa bumi. Cerah sekali pagi ini, aku berencana akan pergi keluar untuk sedikit menghirup kehidupan. Ini hari baru, mesti lupa tentang semua luka. Oh iya, aku hampir tidak pernah mengunjungi tempat favoritku, padang rumput. Tapi sebentar, kenapa ada seseorang di ayunanku? Dan sepertinya aku mengenalnya, baiklah akan aku hampiri.
“Permisi, ini tempat ku” ah seperi anak kecil sekali aku.
“Ya benar dugaanku, kamu pasti datang”
“Tunggu, kamu yang menemukan diaryku kan? “
“Namaku Biru”
“Kenapa kamu tahu aku pasti datang? “
“Emm maaf diarymu...  “
“Kamu membacanya? “
“Eh eh... Ti..dak”
Tanganku refleks menyerangnya
“Gak sopan...Dasar, menyebalkan”
“Maaf.. “
“Yaa, lagipula tak ada gunanya aku memukulmu terus menerus. Kamu kan sudah tahu semuanya”
“Maaf yah “
“Ya aku maafkan , seberapa banyak kamu tahu tentang diriku?”
“Sebanyak ilalang yang tumbuh di padang rumput ini”
Refleks ku cubit tangan kirinya.
“Aw.. Sakit tahu”
“Aku tanya serius”
“Dari diary mu, aku tahu tempat favoritmu disini, berarti hal-hal lainnya yang kamu tulis disana juga aku tahu! “
Benar juga, Dia
“Aku lupa, siapa namamu? “
Dia tampak kesal.
“Jika kamu lupa, coba lihat langit”
“Malas sekali”
“Aku bilang lihat langit!”
“Banyak burung yang terbang dilangit. Aku tahu namamu pasti burung”
“Namaku Biru”
“Ya sudah, berarti jika kamu lupa namaku kamu tinggal keluar sore hari dan lihat langit”
“Aku tahu, namamu pasti capung”
“Kamu menyebalkan! “
Pertemuanku dengan Biru, adalah sesuatu yang tak pernah terduga. Hal yang sulit ditebak. Hahah, memang takdir bukan untuk ditebak, melainkan dijalani. Awal yang sangat jenaka. Aku pikir saat ku liahat di perpustakaan, dia adalah sosok yang membosankan, tapi rupanya dia adalah seseorang yang baik. Dan aku harap dia akan menjadi seseorang yang baik dalam hidupku. Menjadi sahabat sejatiku.

Biru
Biarkan aku menjadi langitmu
Atau bila tak mungkin
Tak apa aku menjadi senjamu
Beriringan
Seiring siang dan sore
Biru dan Senja.

Sudah beberapa hari aku terkapar tanpa daya ditempat tidur, bersama obat, resep dokter, bubur, teh manis, dan susu. Ah membosankan. Terperangkap didalam kubus merah jambu.
“Teteh, obatnya belum diminum. Minum dulu ya sayang” Mama ku selalu disampingku menemaniku
“Ma, Biru sudah pulang ya? “ tadi sebelum aku tertidur biru masih ada disampingku, menemani selagi mama mengantar adikku sekolah.
“Iya, tadi dia bilang ada keperluan dulu sebentar”
Aku diam. Mencerna perkataan Mamaku
“Makan dulu ya teh, mama mau beres-beres dulu”
Aku mengangguk. Dan meraih segelas susu cokelat panas dimeja samping tempat tidurku, aku meminumnya secara cepat tak peduli rasa panas membakar lidahku. Ku lihat sinar oranye bergelinciran didaun pohon mangga yang tumbuh dipinggir kamarku, aku menatapnya tanpa kedip hanya beberapa detik. Suara seseorang mengetuk pintu kamarku.
“Ya masuk”
Kuletakkan kembali gelas berisi setwngah susu cokelat panas yang sudha ku minum tadi. Aku sempat terhenyak, diam. Tak percaya sosok yang datang ke kamarku.
“Arga.. “
“Sudah mengingan?” tanpa basa basi ia langsung menyimpan bunga yang dibawanya dimeja ku.
“Senja, kenapa kamu tidak bisa menjaga diri? “
Aku diam
“Dengar, sudah kubilang saat aku pergi kamu harus bisa menjaga diri... “
Aku masih tidak peduli
Dia tak habis akal, mengambil gitar disudut kamarku. Dia mulai memetik sinarnya.
Kau boleh acuhkan diriku
Dan anggap ku tak ada
Meski takkan merubah
Perasaanku
Terhadapmu
Ku ambil gitar yang sedang dimainkannya, ku letakkan kembali disudut kamar.
“Ada apa lagi Arga? “
“Aku menyesal”
“Penyesalan yang terlambat”
“Aku minta maaf”
“Untuk apa? “
“Tentang aku pergi begitu saja”
“Lebih baik sekarang kamu pergi”
“Sayang.... Harus sebanyak apa aku meminta maaf? “
“Sebanyak air mata yang menetes”
“Apa sesakit itu? “
“Kamu pikir bagaimana? Sudahlah Lintang menunggu mu dirumahnya.”
“Senja, perlu kamu tahu aku masih mencintaimu”
“Jika kamu mencintaiku, pergi sekarang! “
“Maaf, tapi aku tidak bisa.”
“Kamu tidak bisa? Kamu pikir luka bisa hilang begitu saja?”
Dia diam.
“Kamu pikir dicintai tidak seutuhnya itu menyenangkan? Perasaanku yang kamu bagi? Itu...  Sudahlah pergi Arga”
Airmataku tak mampu tertahan. Tangan Arga mengusap lelehan bening itu, dan Sebentar lagi Arga akan memelukku.
“Lepaskan Senja” seseorang meneriaki dari pintu yang terbuka
“Senja milikku” Biru langsung menghampiri dan menahan agar Arga tidak memelukku.
“Aku mohon, pergilah. Biarkan Senja melupakan lukanya “
“Senja, siapa dia? “ Arga bertanya
“Aku Biru, Birunya Senja”
“Senja, apa dia alasan kamu tidak membiarkan aku kembali? “ Arga menatap tajam
“Cukup Arga, bukankah Lintang adalah alasanmu meninggalkanku? Cukup saja aku yang patah hati, jangan sampai Lintang mengalaminya juga. Pergilah temui lagi dia, Bukankah kamu rela menyakiti orang lain untuk bisa bersama Lintang? “
...

Senja Enggan Bertepi

"Cermin, ia pecah tak bisa utuh semula. Berbeda halnya dengan hujan, ia jatuh untuk kembali. Entah, rasa ini akan kembali, atau tetap beranjak"


     Setiap sore hari, aku gemar memainkan gitar. Hahah, ya sebenarnya aku tidak terlalu pandai memetik senar-senar yang memanjang itu. Awalnyapun aku tidak tertarik untuk bersentuhan dengan salah satu alat musik itu, semuanya karena Arga. Arga yang mulanya sering menyanyikan sebuah lagu untukku, lama-lama ia seolah gemas ingin menularkan hobi musiknya itu kepadaku.
“Kamu, manis juga ya kalo lagi kesusahan nyari senar, hahahaha tangannya terlalu kecil jadi gak sampe tuh ke senar yang paling atas”
“Ih apa sih, bukannya bantuin ajarin kek. Malah ngeledek”
Kian hari, kami sering menghabiskan waktu bersama. Apalagi hubunganku dengan Arga terhitung sudah lumayan lama. Pernah suatu saat kami pergi kesebuah tempat, dimana tempat tersebut adalah sebuah padang rumput dan ditumbuhi ilalang. Ya, ini tempat favoritku.
Kami duduk disebuah pohon yang dahannya tumbuh sedikit kebawah. Dia terus berceloteh tentang lelucon yang membuatku tak bisa menahan tawa.
“Cukup Arga, kamu membuatku sakit perut”
“Hahaha baiklah, padahal niatku hanya ingin membuatmu bahagia”
Aku sempat diam mendengar Arga berbicara seperti itu. Ku simpulkan senyum, tak menjawab. Ku alihkan pandangan ketepi barat sana. Jauh disana entah bertepi dimana.
“Senja.... “
Arga meraih tanganku,
“Yaaaa? “
Dia menghela nafas.
“Aku mencintaimu, dan itu tak akan bertepi”
“Aku tak begitu yakin” godaku.
“Ini sungguhan... Sayang”
“Hahaha, baiklah. Aku juga mencintaimu Arga”
“Senja, aku harap kamu tidak akan pergi.”
“Pergi kemana sayang? “
“Ke planet Pluto misalkan”
“Hahaha kamu”
Diam kembali. Suasana menjadi senyap, pikiranku berhambur dan tiba disatu sudut.
“Arga... “ tetes bening terjatuh
“Kamu kenapa sayang? “ Arga panik.
Ku hapus lelehan bening itu.
“Besok Lintang akan pindah kota”
Sontak Arga memelukku, dan berusaha menenangkan.
“Senja, dengar. Lintang sahabatmu ,temanku juga. Aku merasakan hal yang sama seperti mu. Rasa kehilangan sahabat. Apalagi dia sering membantuku untuk menyelsaikan masalah, menenangkanku saat kamu pergi tanpa kabar. Tapi ,ingat dia pergi hanya pindah kota. Lagipula mudahkan untuk menemuinya kembali? Untuk apa menangis, aku ada disini untukmu”
Tangisku mereda, nafas yang semula sesak kini mulai terasa longgar. Arga, aku merasa kamu benar mencintaiku.
      Waktu terus merangkak, tak ada satupun tangan yang bisa menahan, kecuali Tuhan yang berkhendak. Detik,  menit, jam, hari, minggu hingga tahun telah berlalu. Kami masih bersama. Namun tak serupa dengan dulu. Lagipula kini aku dan Arga menjalin hubungan jarak jauh, tak bisa menghabiskan banyak waktu untuk bersama. Aku hanya bisa memantaunya dari jauh, ya tentu saja melalui akun sosial media. Biasanya aku tak terlalu respon tentang dunia maya, tapi kali ini rinduku memaksa untuk mncaritahu.
“Ah.. Arga sih. Mana mungkin buka favebook” tapi rasa rinduku memaksa untuk tetap menelusuri.
“Yah, lagipula aku rindu. Siapa tahu kan dia onfave”
“Yaaaah, aktif 3 hari yang lalu. Oh coba siapa tahu dia posting apa gitu.. “
Aku terus berbicara sendiri.
Dan akhirnya aku melihat postingan terakhirnya pada tiga bulan yang lalu, dia sempat memposting sebuah tulisan.
“Mana mungkin aku bisa mencintai dua wanita sekaligus, tapi ini nyatanya”
Aku terkejut, maksudnya ini apa? Hanya lelucon atau isi hatinya . Aku diam membisu. Sebenarnya ada apa. Kenapa?
“Ayolah Senja, tetap tenang. Ini hanya lelucon” aku berusaha menguatkan diri sendiri.
Sebenarnya aku butuh teman untuk diajak bertemu, dan mengobrol. Aku punya beberapa sahabat, tapi entah mengapa tiba-tiba aku rindu Lintang, dan merasa lebih tepat untuk bercerita kepada Lintang. Ah, Lintang aku rindu. Dan timbul rencana gilaku untuk menemui Lintang ke kotanya,ku cari nomor handphonenya dikontakku. Dan aku masih menyimpannya. Dan ku coba menghubunginya.
“tuu...t... Tuu...t tuu...t Hallo? “ Suara lembut seorang perempuan terdengar nyaring diujung sana.
“Lintang.. Apa kabar?  Ini aku Senja”
“Senja? Senja siapa? “
Apa mungkin aku salah sambung. Aku sempat diam.
“Hahahah ya Senja, aku baik-baik saja. Kamu bagaimana? “
“ Lintang, aku tadi sudah malu tahu! Masih sama ya kamu kayak dulu, gak berubah”
“Hahaha,ya iyalah masih sama lucunya yakan? “
.......
......
.....
Obrolan kami terus memanjang dan berhari-hari kami selalu bertukar kabar, hingga aku lupa untuk menceritakan tentang Arga.

Hujan Mencintai Senja (2)

Hingga tiba malam ini, Gema membicarakan semuanya. Semua yang selama ini, aku mencari tahu. ” Indri, kenapa kamu kelihatan gak suka sama ...