Kamis, 24 Agustus 2017

Senja Enggan Bertepi

"Cermin, ia pecah tak bisa utuh semula. Berbeda halnya dengan hujan, ia jatuh untuk kembali. Entah, rasa ini akan kembali, atau tetap beranjak"


     Setiap sore hari, aku gemar memainkan gitar. Hahah, ya sebenarnya aku tidak terlalu pandai memetik senar-senar yang memanjang itu. Awalnyapun aku tidak tertarik untuk bersentuhan dengan salah satu alat musik itu, semuanya karena Arga. Arga yang mulanya sering menyanyikan sebuah lagu untukku, lama-lama ia seolah gemas ingin menularkan hobi musiknya itu kepadaku.
“Kamu, manis juga ya kalo lagi kesusahan nyari senar, hahahaha tangannya terlalu kecil jadi gak sampe tuh ke senar yang paling atas”
“Ih apa sih, bukannya bantuin ajarin kek. Malah ngeledek”
Kian hari, kami sering menghabiskan waktu bersama. Apalagi hubunganku dengan Arga terhitung sudah lumayan lama. Pernah suatu saat kami pergi kesebuah tempat, dimana tempat tersebut adalah sebuah padang rumput dan ditumbuhi ilalang. Ya, ini tempat favoritku.
Kami duduk disebuah pohon yang dahannya tumbuh sedikit kebawah. Dia terus berceloteh tentang lelucon yang membuatku tak bisa menahan tawa.
“Cukup Arga, kamu membuatku sakit perut”
“Hahaha baiklah, padahal niatku hanya ingin membuatmu bahagia”
Aku sempat diam mendengar Arga berbicara seperti itu. Ku simpulkan senyum, tak menjawab. Ku alihkan pandangan ketepi barat sana. Jauh disana entah bertepi dimana.
“Senja.... “
Arga meraih tanganku,
“Yaaaa? “
Dia menghela nafas.
“Aku mencintaimu, dan itu tak akan bertepi”
“Aku tak begitu yakin” godaku.
“Ini sungguhan... Sayang”
“Hahaha, baiklah. Aku juga mencintaimu Arga”
“Senja, aku harap kamu tidak akan pergi.”
“Pergi kemana sayang? “
“Ke planet Pluto misalkan”
“Hahaha kamu”
Diam kembali. Suasana menjadi senyap, pikiranku berhambur dan tiba disatu sudut.
“Arga... “ tetes bening terjatuh
“Kamu kenapa sayang? “ Arga panik.
Ku hapus lelehan bening itu.
“Besok Lintang akan pindah kota”
Sontak Arga memelukku, dan berusaha menenangkan.
“Senja, dengar. Lintang sahabatmu ,temanku juga. Aku merasakan hal yang sama seperti mu. Rasa kehilangan sahabat. Apalagi dia sering membantuku untuk menyelsaikan masalah, menenangkanku saat kamu pergi tanpa kabar. Tapi ,ingat dia pergi hanya pindah kota. Lagipula mudahkan untuk menemuinya kembali? Untuk apa menangis, aku ada disini untukmu”
Tangisku mereda, nafas yang semula sesak kini mulai terasa longgar. Arga, aku merasa kamu benar mencintaiku.
      Waktu terus merangkak, tak ada satupun tangan yang bisa menahan, kecuali Tuhan yang berkhendak. Detik,  menit, jam, hari, minggu hingga tahun telah berlalu. Kami masih bersama. Namun tak serupa dengan dulu. Lagipula kini aku dan Arga menjalin hubungan jarak jauh, tak bisa menghabiskan banyak waktu untuk bersama. Aku hanya bisa memantaunya dari jauh, ya tentu saja melalui akun sosial media. Biasanya aku tak terlalu respon tentang dunia maya, tapi kali ini rinduku memaksa untuk mncaritahu.
“Ah.. Arga sih. Mana mungkin buka favebook” tapi rasa rinduku memaksa untuk tetap menelusuri.
“Yah, lagipula aku rindu. Siapa tahu kan dia onfave”
“Yaaaah, aktif 3 hari yang lalu. Oh coba siapa tahu dia posting apa gitu.. “
Aku terus berbicara sendiri.
Dan akhirnya aku melihat postingan terakhirnya pada tiga bulan yang lalu, dia sempat memposting sebuah tulisan.
“Mana mungkin aku bisa mencintai dua wanita sekaligus, tapi ini nyatanya”
Aku terkejut, maksudnya ini apa? Hanya lelucon atau isi hatinya . Aku diam membisu. Sebenarnya ada apa. Kenapa?
“Ayolah Senja, tetap tenang. Ini hanya lelucon” aku berusaha menguatkan diri sendiri.
Sebenarnya aku butuh teman untuk diajak bertemu, dan mengobrol. Aku punya beberapa sahabat, tapi entah mengapa tiba-tiba aku rindu Lintang, dan merasa lebih tepat untuk bercerita kepada Lintang. Ah, Lintang aku rindu. Dan timbul rencana gilaku untuk menemui Lintang ke kotanya,ku cari nomor handphonenya dikontakku. Dan aku masih menyimpannya. Dan ku coba menghubunginya.
“tuu...t... Tuu...t tuu...t Hallo? “ Suara lembut seorang perempuan terdengar nyaring diujung sana.
“Lintang.. Apa kabar?  Ini aku Senja”
“Senja? Senja siapa? “
Apa mungkin aku salah sambung. Aku sempat diam.
“Hahahah ya Senja, aku baik-baik saja. Kamu bagaimana? “
“ Lintang, aku tadi sudah malu tahu! Masih sama ya kamu kayak dulu, gak berubah”
“Hahaha,ya iyalah masih sama lucunya yakan? “
.......
......
.....
Obrolan kami terus memanjang dan berhari-hari kami selalu bertukar kabar, hingga aku lupa untuk menceritakan tentang Arga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hujan Mencintai Senja (2)

Hingga tiba malam ini, Gema membicarakan semuanya. Semua yang selama ini, aku mencari tahu. ” Indri, kenapa kamu kelihatan gak suka sama ...