"Kenapa kamu yakin?"
"Because I belive"
"I belive i can fly... Hahaha. I love you" Tangan ku semakin erat melingkari badannya.
"Tuh kan! Kamu gak jawab lagi" Kataku merajuk.
"Bukan gak jawab, tapi kamu gak denger". Dia sempatkan tangannya mencubit pipiku.
Suara lalulalang kendaraan membuat percakapan kami berdua didominasi dengan kata "Hah?", "Apa?", "Ih gak kedengeran", "Dasar budeg". Entah, semuanya dia ceritakan begitu saja. Tentang beberapa hal yang tadinya ingin aku tahu, tapi menjadi enggan ku dengar. Tapi dia memaksa, yasudahlah kudengarkan saja.
Kami berdua adalah kebetulan. Yap, kebetulan yang menjadi takdir. Sebenarnya aku tidak percaya dengan kata kebetulan, karena semua punya alur dan tujuan yang sudah Tuhan rencanakan. Bagaimana pertemuan kami, perkenalan kami semuanya sudah diatur Tuhan. Dan aku rasa, ini yang terbaik. Sering sekali kami berdebat tentang bagaimana seharusnya dia diperlakukan dan sebaliknya bagaimana juga dia harus memperlakukanku. Pernah sekali, aku meminta uuntuk pergi ke acara temanku.
"Enggak. Aku gak mau"
"Yaudah gapapa, aku tetep berangkat"
"Yaudah hati-hati"
Ketidakpekaan lelaki itu memang menjadi masalah yang berpengaruh dalam sebuah hubungan.
"Iya aku tahu, aku bukan mantan kamu. Yang kemana-mana kamu anter, yang selalu kamu turutin" Dan ini perempuan. Selalu menyangkutpautkan masalalu dengan masa sekarang.
"Terus aja banding-bandingkan sama mantan"
"Semuanya jelas kok. Kamu beda banget, kalo ke mereka treat like a queen. Aku? Hahah. Yaudah"
"Yaudah, sekarang kamu siap-siap. Aku jemput sekarang" Ternyata laki-laki memang harus kalah.
"Gak perlu. Terlanjur unmood". Itu kebiasaanku.
" Kamu itu kenapa sih? Kenapa gak pernah sedikitnya ngerti. Atau paling tidak belajar dewasa, kamu selalu berpikiran aku memperlakukan mantan-mantanku lebih spesial, dibanding memperlakukan kamu! Kamu sok tahu"
" Bukan sok tahu, tapi memang itu kenyataannya"
" Aku punya alasan sendiri, kenapa aku begini. Intinya Aku sayang kamu"
Selalu menggantung, bagaimana mungkin aku bisa paham sedangkan dia tidak pernah menceritakan alasan yang dia maksud. Sampai upin-ipin lulus SMApun, sepertinya aku tidak akan pernah tahu dan tidak akan pernah mengerti. Kejadian serupa terus berulang-ulang. Dan dia pasti mengatakan "Kapan kamu mengerti?" ,dan aku hanya bisa bergumam " Saat kamu terbuka dan mengatakan sebenarnya pernah terjadi apa, disaat itu aku bisa mengerti".
Hingga tiba malam ini, akhirnya dia bisa....
Bersambung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar